Diklat On Line Fenomena Apakah ini?

Masuk semester kedua tahun pembelajaran 2023-2024 ini kembali guru menjadi objek kegiatan yang mengeksploitasi guru sebagai sebuah “profesi”. Belum jelas ujung pangkal dan sebab musababnya(menurut berita adanya SKB 3 menteri:Menpan, Mendikburistek, dan Menag) sehingga akhir-akhir ini muncul berbagai platform dengan slogan diklat nasional 40 jam bersama lembaga resmi. Dan disayangkan atau bisa jadi sangat kita apresiasi dengan berduyun-duyunnya semua guru dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP bahkan SMA/K dan dari Sabang sampai Merauke, dari Swasta, P3K hingga ASN semua seperti ketakutan untuk tidak dapat jatah slot waktu dan sertifikat yag dijanjikan.
Menilik kembali 4 kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu pedagogik, profesional, personal dan sosial maka masihkah relevan diklat on line hingga larut malam hingga melupakan tugas dan kewajiban utama mengajar esok paginya. Maka jika kita kupas lebih jauh diklat semacam ini apakah efektif untuk meningkatkan kompetensi guru?
Pertama, dari latar penyelenggaraan sebenarnya fungsi utama dari diklat on line ini jelas kurang bermakna selain dilaksanakan pada waktu recovery guru juga perlu “me time” bersama keluarga dan masyarakatnya
Kedua, dari penyelenggara hanya disebutkan lembaga resmi tanpa menyebut apakah dari pihak yang berwenang menyelenggarakan diklat untuk guru dan berhak menerbitkan sertifikat kompetensi tertentu ini perlu ditilik secara teliti karena ada badan khusus yang melakukan standardisasi sertifikat-sertifikat kompetensi apalagi untuk guru
Ketiga, dari sisi materi banyak diklat seperti ini yang kontennya ternyata harus memyertakan  aplikasi aplikasi berbayar yang bisa digunakan sehingga akan lebih membebani guru
Keempat, apakah peningkatan kompetensi profesional ini tidak lebih efektif dan efisien jika dengan karya tulis atau sejenisnya sehingga guru diajak dan diajari berfikir analistis dan metodis
Kelima, sering diklat on line seperti ini tidak berbayar namun menyertakan link infaq sukarela, yang bagi guru tentu sangat tidak enak untuk tidak memberikan infaq terbaiknya( bahkan terakhir ada beberapa guru yg terkuras rekeningnya karena apk penipu mengatas namakan Panitya Diklat PMM dan Pengisian SKP)
Sekali lagi kapankah guru-guru kita benar dimanusiakan dengan tidak dijadikan objek dari sebuah proyek. Jika boleh bertanya sebenarnya fenomena apakah ini?

apakah kita sebagai guru, sebagai pengurus IGI juga akan diam saja atau bahkan ikut arus ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *