ANTARA AMBISI KOLABORASI dan PRESTASI

ANTARA AMBISI KOLABORASI dan PRESTASI

Saat ini olahraga menjadi profesi yang menjanjikan, bukan hanya karena bonus saat menjadi juara, namun lebih pada aspek entertainment yang menjadikan olahragawan seperti artis dengan penghasilan melebihi pejabat negara. Di lain sisi banyak banyak orang tua menganggap olahraga adalah jalan ninja anak untuk bisa masuk jenjang sekolah selanjutnya berbekal piagam kejuaraan. Peluang  sering dimanfaatkan oleh orang tua untuk memaksakan (berambisi) agar anaknya juara dalam event olahraga pelajar seperti, O2SN, POPDA, POPNAS, dan sejenisnya yang bersertifikat. Sementara  anak tidak diberi ruang untuk mundur sejenak agar bisa melakukan ancang-ancang untuk meraih prestasi lebih tinggi. Hal ini pernah disampaikan Coach Seto Nurdiyanto dalam sebuah forum, bahwa ada orang tua yang menuntut sebuah klub sepakbola untuk dibubarkan karena sering kalah dalam bertanding. Peristiwa ini merupakan sebuah ironi dalam dunia olahraga, ternyata masih banyak pemahaman bahwa anak adalah orang dewasa dengan badan yang kecil. Mereka  tidak mau memahami bahwa di dalam olahraga tidak hanya ada juara, tetapi ada unsur sportivitas, unsur pemecahan masalah, melatih kematangan mental, daya juang, kerjasama dan semangat yang perlukan anak nanti dikemudian hari.

Menurut Indra Syafri pelatih nasional PSSI khusus dalam sepak bola ada 5 hal yang perlu diperbaiki dalam sepakbola Indonesia jika ingin bersaing di dunia, yaitu Infrastruktur, kurikulum, Pelatih, Pemain, dan Kompetisi. Piala dunia U-17 yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini kita patut menjadi sebuah Pelajaran dan cambuk berharga bagi dunia olahraga kita, khususnya sepakbola. Kita harus mengambil sisi positif dari team yang hadir, bagaimana mereka mengelola anak kemudian meramunya menjadi sebuah team yang kuat.

Lebih luas lagi jika  berbicara olahraga secara umum, kita masih prihatin dengan peringkat  kita di Asia Tenggara, dimana tidak pernah juara umum lagi sejak 2011. Dengan  bonus demografi dan geografis yang ada semestinya tidak sulit mencari atlet bertalenta yang unggul untuk bisa dibina, dilatih, dirawat menjadi atlet yang benar-benar matang pada masa nya, bukan sekedar juara pada masa remaja lalu purna saat usia emasnya.

Melihat fenomena ini kita perlu sebuah system yang menjamin adanya keterkaitan antara 5 unsur tersebut. Ada sebuah data dalam pendidikan formal bahwa keterampilan motoric anak-anak kita masih jauh dibawah anak-anak Asia Tenggara apalagi kebugarannya, dimana indeks kebugaran pelajar Indonesia hanya 0,14 % sedangkan di Asia indeks tertinggi kebugaran pelajarnya adalah 2,1% (Ary Moelyadi Deputi Pengelolaan Olahraga Kemenegpora, 2021). Kemudian dalam perjalanannya kita bisa melihat dalam event-event olahraga pelajar dari jenjang dasar, menengah dan atas akan kita temui kurang adanya kolaborasi dan koordinasi antar lembaga sehingga raihan prestasi siswa tidak terpantau dan tercatat secara rapi(statistic). Permasalahan ini menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah dengan DBON-nya. Desain besar olahraga nasional dituntut untuk menjadikan siswa jenjang sekolah dasar menjadi generasi emas ke depannya  melalui system pencarian talenta di sekolah dan proses pembinaan dari klub olahraga.

Berbeda dengan negara lain yang menjadikan sekolah sebagai “athlete maker” dengan system After School Activities nya di negara kita seakan terpisah antara Pendidikan jasmani di sekolah dengan prestasi olahraga yang dibina oleh klub-klub olahraga dibawah Induk Organisasi cabangnya. Di sekolah anak-anak kita hanya memperoleh kegiatan pendidikan jasmani seminggu maksimal 3 jam dilanjut kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana menyalurkan hobby dan ajang gembira ria. Sementara  jika melihat beberapa negara lain ekstrakurikuler ini sudah menjadi sebuah bagian dari system pembinaan Long Term Athlete Development dan bagian dari piramida pembinaan prestasi, sehingga mereka bisa memproyeksikan kemampuan siswa sekolah, mahasiswa dan atletnya beberapa tahun ke depan dalam ajang Olympiade.

Di bidang fisiologi olahraga juga tidak kalah memprihatinkan. Dalam  sebuah diskusi ilmiah, didapatkan sudah banyak anak-anak sekolah lanjutan tingkat pertama mengalami spasm otot karena over training. Penderita spasm otot ini juga ditangani oleh pelatih-pelatih yang notabene paham akan prinsip-prinsip Latihan dan pembebanan. Jika hal ini benar maka Pelatih olahraga bisa dikatakan melakukan malpraktik yang menyebabkan anak latihnya mengalami hambatan, cedera atau lebih fatal lagi gagal menjadi atlet. Induk organisasi harus melakukan pemantuan program latihan memasuki level spesifikasi bukan hanya sebagai EO yang menyelenggarakan event-event kejuaraan. Semoga ke depan penanganan siswa yang berbakat dalam olahraga dan penanganan atlet di klub-klub olahraga semakin tertata dan terdata dengan benar agar ada sinergi dan kolaborasi dalam memajukan prestasi olahraga secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *