Menjadi Orang yang Gampang Berubah

oleh : Hernowo

“All things must change to something new, to something strange,” ujar Henry Wadsworth Longefellow. Kata-kata ini saya temukan di buku Rhenald Kasali terbaru, Change!. Saya sangat setuju dengan muatan makna yang dikandung oleh kata-kata itu. Saya menyadarinya baru-baru ini. Dahulu saya tidak berani berubah dan perubahan adalah sesuatu yang, bisa jadi, menakutkan. Namun, kini saya sadar bahwa saya memang harus berubah setiap hari.

Apabila saya tidak mempersepsi diri saya berubah setiap hari, saya akan mengalami semacam stagnasi–kejumudan. Artinya, diri saya mungkin saja mau berubah; namun, pikiran saya tidak mau berubah. Atau, hal-hal di luar diri saya sudah berubah, namun pikiran saya tetap seperti dahulu. Oleh sebab itu, saya juga sangat menyukai kata-kata lain yang dimuat di buku Change!: “Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything.”
Kata-kata yang barusan itu merupakan ciptaan George Bernard Shaw. Sungguh, kata-kata Shaw menggugah diri saya. Saya merasakan sekali betapa sulitnya mengubah cara berpikir saya. Cara berpikir, dalam bahasa yang lebih canggih, kerap dipadankan dengan paradigma. Pergeseran paradigma dicetuskan pertama kali oleh Thomas Kuhn. Kuhn mengatakan bahwa temuan-temuan baru dalam suatu bidang ilmu kadang–untuk memahaminya–perlu disertai dengan perubahan atau pergeseran paradigma (cara berpikir).
Dan mengubah cara berpikir itu tidak mudah. Inilah yang saya alami selama bertahun-tahun sebelum saya memutuskan (atau diputuskan oleh sesuatu) untuk menjadi seorang penulis. Saya kira saya baru menyadari pentingnya mengubah cara berpikir setelah saya berusia lewat 40 tahun. Saya sadar bahwa pikiran saya terus mendapatkan hal-hal baru. Saya mendapatkan hal-hal baru dari banyak buku yang saya baca. Saya kemudian mengklaim bahwa pikiran saya harus berubah.
Jadi, jasa terbesar yang membuat saya bisa berubah adalah buku. Saya kira saya kerap diubah oleh teks-teks yang saya baca–terutama perubahan itu terjadi di benak saya. Mungkin, jika digambarkan secara fisikal, perubahan itu terjadi dalam jaringan atau koneksi sel-sel saraf yang saya miliki. Ternyata, untuk menuju ke suatu wilayah yang di situ terjadi perubahan, saya harus yakin bahwa ada sesuatu yang memang mengubah diri saya. Siapa yang mengubah diri saya? Buku-buku yang saya bacalah yang telah mengubah diri saya.         
Kini, setiap kali saya bicara tentang pentingnya mengubah cara berpikir atau menggeser paradigma lama ke paradigma baru, saya senantiasa mengunggulkan buku untuk membantu seseorang berubah. Ada kemungkinan, seseorang bisa berubah lantaran tidak membaca buku. Ini bisa saja terjadi dan saya tidak akan memungkirinya. Namun, saya merasakan sekali bahwa apabila seseorang benar-benar ingin merasakan perubahan–terutama perubahan yang terjadi di dalam pikirannya–saya anjurkan untuk menggunakan buku agar perubahan yang terjadi itu benar-benar efektif dan tidak hanya berubah dalam jangka waktu yang pendek.
Kini, setelah saya berhasil menyadari bahwa diri saya telah berubah, saya lantas tak mau berhenti hanya di situ, di dalam konteks berubah saja. Saya harus terus mempersepsi diri saya sebagai orang yang mau dan gampang berubah. Berubah ke arah mana? Tentu, berubah ke arah yang terus membaik, terus memiliki semangat-baru untuk mau dan mampu memperbaiki kehidupan saya, keluarga saya, dan juga lingkungan saya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *