Menulis bukan Mendikte

Meskipun title tulisan ini adalah menulis tapi akan lebih banyak melihat dari sudut pandang pembaca. Karena dengan maraknya kegiatan menulis bagi guru apakah di media ini, di media group on line, di media cetak (buku) ternyata masih banyak guru yang dengan potensi supernya membuat tulisan dengan mendikte para pembacanya. Tidak jarang buku yang teman-teman guru hasilkan terlalu memaksakan kehendak sesuai dengan jalan pikirannya, belum ada Quality Control yang jelas. Meskipun banyak penulis yang percaya dan yakin akan adanya perbedaan dalam menafsirkan sebuah tulisan, tapi menganggap semua pembaca memahami pikiran kita adalah sebuah kesalahan fatal. Karena sebuah tulisan pasti akan dinisbatkan pada penulisnya, pada pembuatnya bukan pada pembacanya, siapa penulisnya….baru mereka akan masuk ke esensi dari tulisannya. Membaca sendiri menurut Thorndike (1981) membaca merupakan sebuah proses kognitif melibatkan proses belajar, refleksi, penilaian, analisis, sintesis, hubungan, perbandingan, perhatian, generalisasi, dan beberapa komponen lain yang rumit. Sehingga tidak mungkin sebuah kalimat akan memiliki tafsiaran yang sama persis dengan apa yang dikehendaki oleh penulisnya, jika ada 2 orang pembaca maka aka nada 2 tafsiran yang berbeda dan jika ada 80 pembaca maka aka nada 80 tafsiran yang berbeda, meskipun identik tetapi tidak akan ada penafsiran yang sama persis dengan isi kepala penulisnya.

Secara mudah pembaca akan dengan jelas mengetahui penulisnya meskipun dengan inisial sekalipun. Tetapi untuk memahami esensi tulisan yang dihasilkan pembaca akan memerlukan tahapan-tahapan kognitif yang sangat panjang dan rumit. Bahkan seorang penulis handal biasanya melakukan survey dan penjajakan akan apa yang akan dia tulis dari sebuah tema. Dia akan melakukan banyak hal supaya tulisannya bisa diterima oleh konsumen, ibaratnya mencoba sebuah ramuan obat, jika dari 100 tikus yang diuji coba ada satu saja yang mati maka obat itu dianggap tidak layak produksi dan masuk kategori gagal. Apalagi sebuah tulisan yang cenderung tidak memiliki standar yang pasti karena ada norma-norma tertentu yang selalu berkaitan dengan penokohan, deskripsi setting, pesan, dan diksi.  Dalam hal ini menurut Sutarinah (1998) untuk memahami sebuah tulisan ada 4 tahapan ;

Pertama pemahaman literal, didefiniskan sebagai keterampilan memahami bacaan secara tekstual dari kata-kata primer yang ada, deskripsi  penulis dan merupakan penalaran dangkal saja

Kedua interpretasi, kemampuan mengidentifikasi alas an, menemukan hubungan, meramalkan ending tulisan, dan membandingkan

Ketiga pemahaman kritis, kemapuan memahami konteks tulisan dengan esensi sebagai pesan atau amanat dari tulisan. Pembaca bisa menilai pemikiran-pemikiran dari penulisnya

Keempat pemahaman kreatif, adalah kemampuan menarik inti dan esensi tulisan dan menerpakan ide-ide tulisan yang dibaca dalam hal ini pembaca mendapatkan pardigma baru terhadap suatu hal dan memecahkan masalah terhadap sebuah krisis atau kejadian, menarik value atau nilai-nilai tulisan.

Mengapa semua hal ini penting karena dengan kemapuan literasi bangsa Indonesia yang masih rendah (peringkat 60 dari 62 negara OECD) maka tidak mungkin kita menulis kemudian berharap semua pembaca sudah memiliki tingkat pemahaman tingkat kritis apalagi kreatif. Di Jogja yang memiliki nilai integritas tertinggi dalam pendidikan saja indeks membaca warganya yang terdidik masih jauh dibawah angka belanja barang konsumtif.  Dalam sebulan mereka baru membeli 2 buku bacaan dari 100 barang yang mereka beli, betapa rendahnya kemauan baca Negara ini.

Namun di media ini kita yakin bahwa kemampuan literasi sudah semakin bagus sehingga dalam mencerna sebuah tulisan mereka memahami apa yang mereka baca bukan hanya melihat teks dan deskripsi setting dan melihat siapa penulisnya. Pernah kita tulis dalam media ini juga kompetensi bukan kompetisi, jadi banyak  menulis itu penting tapi melihat pangsa pembaca juga sangat penting. Metode itu lebih penting dari pada ilmu itu sendiri. Dalam menulis tentunya penyampaian yang sesuai dengan lingkungan dan budaya kita itu lebih penting daripada isi atau esensi tulisan itu sendiri, karena dalam setiap forum pastilah berbeda-beda kemampuan dalam memahami tulisan kita, jangan paksakan semua pembaca memahami dan mengerti isi tulisan kita, karena memang mereka berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *