Audensi dengan Pengurus Pusat

Kegiatan evaluasi Program Organisasi Penggerak Ikatan Guru Indonesia (IGI), yang dilaksanakan di Yogyakarta telah berakhir dengan meninggalkan beberapa catatan. Perintahnya jelas, agar IGI di masing-masing Wilayah atau Daerah supaya bergerak, mendorong tercapainya mutu pendidikan di Indonesia.

Kesempatan bersua dengan teman-teman Pengurus Pusat tidak diabaikan begitu saja. Seketika, kami yang mewakili dari pengurus wilayah dan daerah, mengajak untuk audensi. Gayungpun bersambut. Pengurus Pusat menerima dengan penuh antusias. Dan memberi informasi seputar kegiatan IGI terutama di pusat.

Danang Hidayatullah sebagai ketua umum IGI memberitahukan bahwa IGI merupakan organisasi profesi guru yang mendapat prioritas di Kemdikbud. Hal ini karena sepak terjang IGI dalam memberikan warna Pendidikan di Indonesia. Disamping itu, saat ini IGI sedang mengembangkan aplikasi organisasi. Diharapkan, lewat rekayasa digital ini, IGI menjadi semakin mandiri di wilayah dan daerah masing-masing.

Disusul kemudian sang motivator DR Roesnanie, sering dipanggil Kak Rose, menggelorakan bahwa masuk IGI harus dari panggilan hati. Bukan dari dorongan, ikut-ikutan. Dengan demikian, hati akan tergerak manakala visi dan misi menjadi energinya. Lebih baik sedikit tapi semangat. Diingatkan pula, jangan pernah menghambat langkah orang lain.

Sampai saat ini, pantauan dari Pengurus Pusat IGI masih berharap banyak agar IGI DIY mampu menjadi kontributor IGI se Nusantara.

Hambatan yang dirasakan oleh pengurus IGI DIY saat ini bila dirangkum adalah komunikasi dan koordinasi. Keduanya seperti sebuah mata uang logam. Tak dapat dipisahkan. Koordinasi tidak akan berjalan tanpa komunikasi. Demikian pula sebaliknya. Bagaimana akan menggerakkan organisasi tanpa koordinasi.

Rasa-saranya jadi cemburu bila cerita yang dibawa oleh pengurus pusat tentang dinamika IGi di daerah-daerah lain. Mereka selalu semangat bila berbicara tentang peningkatan mutu Pendidikan. Rasa-rasanya juga ikut berdosa, bila perjuangan pengurus pusat dalam mendarma baktikan Pendidikan lewat birokrasi. Apapun masalahnya audensi tetap memberi titik cerah, dan mengurai satu persatu problematikan organisasi. Tidak diperkenankan merongrong celah kelemahan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *