Viral dimasa Disrupsi

oleh : AMK Affandi

Disrupsi adalah kenyataan. Realita yang mesti kita hadapi. Jangan pernah meninggalkan era disrupsi. Inilah impian yang sejak lama kita nantikan. Waktu belum ada internet, saat masih mengandalkan telepon, kita pernah bercita-cita mengirim sebuah dokumen tanpa harus pergi kantor pos atau warung teleomunikasi (wartel).

Setelah mengalami proses yang cukup lama, akhirnya dunia maya dapat terwujud. Manusia dapat saling memberi informasi, tanpa harus beranjak dari kursi. Inilah dunia yang kita impikan. Bahkan perkembangan Teknologi Informasi (TI) lebih dari apa yang kita idamkan. TI ternyata dapat merambah kesegala macam penjuru kehidupan. Bidang apa yang tak tersentuh TI?. Orang dapat dikenal luas seketika hanya gegara TI.

Dunia disrupsi menjanjikan ruang pergerakan yang serba cepat. Disrupsi menginisiasi lahirnya model tata kelola kehidupan secara inovatif dan disruptif. Memanfaatkan dunia maya dengan tetap beradab adalah pilihan yang tepat. Pemilihan konten harus dilakukan dengan penuh kebijakan. Sekali, sebuah konten berisi sampah, orang lain tak sudi lagi mampir ke lapak kita.

Membangun konten harus dilakukan dengan bijak. Kemanfaatan konten tergantung bobotnya. Baik secara keilmuan maupun sisi praktisnya.  Untuk menjadi viral, konten dapat dikatrol melalui :

Pertama, mata uang sosial. Di media sosial, ada pemeo “semakin banyak kita menunjukkan ke orang lain, semakin menandakan bahwa kita kaya secara sosial. Sekarang ini, kaya secara sosial menjadi incaran nitizen. Orang lain akan tergerak untuk menyebarkan konten tertentu (lewat media sosial manapun), karena mereka merasa bahwa men-share konten tertentu, maka orang tersebut merasa ikut berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Kedua, emosi. Emosi dapat mengaduk-aduk isi hati seseorang. Sebuah konten akan mudah menjadi viral jika isinya memicu emosi publik. Emosi dapat berupa humor sehingga mengundang tawa, perasaan yang dapat membangkitkan gairah, ataupun emosi yang memancing kemarahan. Hanya saja, saat ini, konten yang memicu emosi kemarahan lebih mudah viral.

Ketiga, nilai praktis. Sebuah status akan mudah menyebar menjadi viral bila isinya mampu memberikan manfaat praktis. Termasuk didalamnya adalah konten tentang tips, tutorial, cara kerja dan lain-lain. Konten yang berisi manfaat punya peluang untuk menjadi viral.

Keempat, cerita. Sebuah konten akan menjadi masyhur bila diformat dalam bentuk cerita. Penyampaian lewat storytelling akan mudah dicerna. Misalnya kisah seseorang yang inspiratif, akan menjadi viral karena mengandung emosi, kemudian menjadi viral.

Referensi : pdf dari Yodia Antariksa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *